SINGGAH SEBENTAR DI PULAU AIR RAJA

SINGGAH SEBENTAR DI PULAU AIR RAJA


Satu hal yang paling menyenangkan tinggal di daerah kepulauan itu adalah banyaknya pulau-pulau cantik yang antri menunggu giliran untuk disinggahi. Di Batam sendiri, ada sekitar 300 pulau, baik yang berpenghuni maupun pulau kosong. Dan dari 300 pulau itu, belum ada setengahnya yang sudah pernah saya kunjungi. Jadi gak heran, apabila saya selalu excited kalau ada kesempatan untuk mengunjungi pulau-pulau tersebut. Pulau Air Raja salah satunya.

Meski namanya tidak tercantum di dalam peta, tapi ternyata, pulau kecil yang masuk dalam wilayah Kecamatan Galang ini menyimpan sebuah situs peninggalan sejarah. Perigi Air Raja nama situs peninggalan tersebut. 

Dalam acara jelajah pulau bersama teman-teman kantor beberapa waktu yang lalu, Pulau Air Raja menjadi salah satu tujuan kami. 

***

Matahari bersinar cerah ketika pompong yang kami tumpangi meninggalkan Pelabuhan Punggur. Perahu nelayan, pulau-pulau besar dan kecil menjadi pemandangan yang menemani kami selama hampir 1 jam perjalanan.

 di dalam pompong

Lega ketika akhirnya pompong yang kami tumpangi merapat di dermaga kayu Pulau Air Raja. Rumah-rumah panggung yang berjejer di sepanjang bibir pantai seolah menyambut kami, mengucapkan salam selamat datang. Pohon-pohon nyiur yang menjadi latar rumah-rumah milik nelayan terlihat kontras dengan birunya langit. Air laut di bawah saya terlihat jernih, berwarna hijau kebiruan. 

 Menuju Pulau Air Raja

 Dermaga kayu di Pulau Air Raja

Saya berdiri di atas dermaga kayu. Menikmati apa yang tersaji di depan mata. Saya merasa nyaman dengan kehidupan di sini. Begitu tenang dan asri. Jauh dari segala hiruk-pikuk kota besar. Setelah puas membingkai pesona pulau kecil yang luasnya hanya sekitar 5 km persegi ini, saya bergegas menuju salah satu rumah penduduk yang ada di ujung dermaga. Di sana teman-teman saya sudah duduk sambil menikmati es kelapa muda. 

 Welcome drink, es kelapa muda

Di depan rumah yang kami singgahi, ada tanaman cabe yang menarik perhatian. *gak pernah ngeliat taneman cabe ya, mbak?! Eh tunggu dulu, cabe yang ini, bukan cabe biasa... apalagi cabe-cabean. Cabe yang ini warnanya ungu terong. Dan uniknya lagi, dalam satu pohon cabe ada dua warna cabenya, warna merah seperti cabe pada umumnya, dan warna ungu terong. Belakangan baru saya tau, kalau ternyata emang ada bibit cabe rainbow. 

 Cabe rainbow di Pulau Air Raja

Setelah puas terkagum-kagum ama tanaman cabe, tak lama kemudian, satu persatu hidangan tersaji di atas karpet yang sudah dihamparkan di teras rumah. Wuiih.. sepertinya kami akan makan besar hari ini. Sotong goreng tepung, ikan asam pedas, juga rendang nangka. Masih ditambah dengan satu baskom besar mangga hasil kebun sang pemilik rumah. Apa lagi yang kurang? Makan siang ditemani angin sepoi-sepoi sambil memandang laut. Sementara lidah dimanja oleh nikmatnya hidangan hasil laut yang segar. Keramahan penduduk Pulau Air Raja melengkapi jamuan makan siang itu. Sungguh merupakan keramahan yang tidak dibuat-buat. Kedatangan kami ke sini memang untuk bersilaturahmi dengan penduduk Pulau Air Raja.

 Mari makaaaan...

 Mangga hasil kebun tuan rumah
***

Setelah puas bersantap dan mengobrol santai dengan tuan rumah, tentu saja kami tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengunjungi situs Perigi Air Raja. Sebuah peninggalan sejarah yang menjadi latar belakang nama Pulau Air Raja. Bagi saya pribadi, mengulik kisah di balik nama sebuah tempat itu selalu saja menarik.  

Lokasi situs Perigi Air Raja ini tidak jauh dari dermaga, hanya perlu berjalan kaki sekitar 30 meter melewati jalan setapak yang sedikit mendaki. Meski siang itu matahari bersinar terik, tapi rimbunnya pepohonan membuat suasana di sekitar menjadi lebih adem. Tak lama kami sudah sampai di sebuah gapura tembok berwarna kuning yang merupakan pintu masuk menuju perigi. Saya berhenti sejenak membaca tulisan yang ada di tembok batu itu. Ternyata itu adalah cerita tentang asal mula terjadinya Perigi Air Raja. 

 Foto bareng di gerbang perigi

Di situ dikisahkan, bahwa pada jaman dahulu, pada masa peemerintahan Datuk Raja Munsang Arafah, rombongan dari Kerajaan Bintan akan berlayar ke Johor, Malaysia, menggunakan perahu Lancang Kuning. Rombongan itu terdiri dari 5 orang raja, 30 orang pengawal dan 2 orang cucu kembar Datuk Raja Munsang Arafah. Di tengah perjalanan, perahu Lancang Kuning dihadang oleh badai yang cukup besar, sehingga akhirnya terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. 

Setelah 3 hari 3 malam terdampar di pulau, rombongan tersebut mulai kehabisan air minum. Mereka sudah mencari ke mana-mana, tapi setetes air tidak juga ditemukan. Akhirnya kelima raja berdoa dan memohon pada Allah. 

Kemudian Datuk Raja Munsang Arafah memahat sebuah batu. Air mengalir dari batu yang dipahat tersebut. Lalu dibuatlah dua perigi yang diberi nama seperti nama kedua cucu kembar Datuk Raja Munsang Arafah, yaitu Putri Srikandi dan Putri Cahaya Nilam.

Datuk Raja Munsang Arafah beserta keluarganya akhirnya tinggal di pulau ini sampai akhir hayat mereka. Dan sekarang, saya berdiri di pulau tak berpenghuni yang menjadi tempat terdamparnya para raja dari Kerajaan Bintan beratus tahun silam. Dan kisah tentang terjadinya dua buah perigi itulah yang akhirnya diabadikan menjadi nama pulau ini, Pulau Air Raja. 
  
***

Dua buah perigi itu dipisahkan oleh sebuah bangunan yang tampak seperti pelaminan dengan hiasan khas Melayu. Kain berwarna kuning yang warnanya terlihat mulai pudar dan tampak kotor menutupi kedua bangunan perigi. Sayang sebenarnya. Seharusnya, situs peninggalan sejarah seperti ini bisa lebih dijaga lagi, dan dilestarikan keberadaannya. 

 Foto bareng di antara dua perigi

Salah satu perigi, kain penutupnya sudah terlihat kusam

Meskipun kain penutupnya tampak kotor, tapi sampai sekarang kedua perigi tersebut masih terus mengeluarkan air. Menurut cerita yang saya dapat dari penduduk setempat, perigi tersebut tidak pernah kering meskipun musim kemarau. 

Bertambah lagi pengetahuan saya tentang sejarah salah satu dari ribuan pulau yang ada di Indonesia. Liburan nanti, ke pulau mana lagi ya?

Sumber : adventurose.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benan Lingga Wisata Bahari dengan Penginapan di Pulau